Melangkah setapak, beribu kata terinjak

*Abaikan kata-kata sok bersajak diatas, hanya bingung saja sudah hampir setahun tidak mengisi blog kesayangan ini. Jadi bisa ya cuman curhat.

Menginjakan kaki pertama kali dibumi osing, merupakan karier pertama saya di bekerja di LSM. Saat itu definisi LSM aja juga masih bingung, yang saya pahami adalah 11 aktivitas yang harus saya kerjakan selama kurun waktu 1 tahun di desa Bangsring, Banyuwangi.
Continue reading “Melangkah setapak, beribu kata terinjak”

Advertisements

Manta untuk siapa?

wpid-img_1144.jpgSaya mengenal manta sebenarnya sejak sekolah dasar ketika orangtua memberikan saya Tamiya tipe mantaray, kemudian saya juga melihat salah satu tokoh kamen rider dalam serial Kamen rider ryukii. Ketika kuliah membaca mengenai kehidupan manta dilaut membuat saya suka sekali dengan ikan elasmobranchi ini. Continue reading “Manta untuk siapa?”

Curhatan komodo

Menginjakan kaki pertama di tanah Manggarai Barat merupakan salah satu impian yang baru saja kesampaian selama 5,5 tahun bekerja di NTT. Mendengar besarnya nama dan promosi di tingkat dunia mengenai daerah ini tentunya sangat dinanti. 2 bulan lalu saya mendapatkan kesempatan untuk sedikit observasi program perikanan hiu dan pari manta di perairan TNK dan Manggarai Barat, tentunya saya akan banyak terlibat banyak diskusi dengan user disana yaitu nelayan, pengusaha perikanan, dive operator dan pemerintah setempat.

Berbicara pemanfaatan perairan tersebut untuk tujuan pariwisata dan perikanan tangkap cukup menarik. Pariwisata di kawasan perairan komodo tidak dipungkiri sangat jauh lebih maju dibandingkan daerah lain di NTT. Investor sungguh banyak mulai dari penginapan, restoran, jasa wisata hingga laundry pun ada. Jumlah wisatawan pertahun yang cukup fantastis, kalau tidak salah tahun sebelumnya kurang lebih 60.000 wisatawan. Perputaran uang pastinya sangat besar disektor ini.

image

Gambar 1. Sunset dari salah satu resort di Manggarai Barat
Continue reading “Curhatan komodo”

Pembelajaran upaya Penanganan Mamalia Laut Terdampar

Cukup lama juga baru upload kegiatan ini, maklum menunggu versi officialnya disitus tetangga naik dulu baru mau publish :). Kebetulan yang disengaja, loh!. pada Selasa, 26 November 2013 ruangan pertemuan di Hotel Sanur Beach dipadati oleh praktisi, pemerintah daerah dan Pusat, akademisi hingga dokter hewan yang mengikuti kegiatan Workshop Tingkat Nasional mengenai Mamalia Laut Terdampar di Indonesia. Sangat beruntung diberi kesempatan ini, coba dari dulu ketika saya berdomisili di NTT, tapi tidak ada kata terlambat ya guys.

Kegiatan ini dimulai dengan materi Penangangan cetacean terdampar yang dilanjutkan dengan studi kasus dan simulasi lapangan. Komponen yang ideal dalam penanganan cetacean terdampar adalah terdiri atas prosedur penanganan pada first responden, identifikasi jenis cetacean, identifikasi penyebab kematian adanya kordinator yang mengatur penanganan dan pasca penanganan lanjutannya, serta perlu adanya tindakan necropsy. Namun pada banyak kondisi dilapangan tidak semua hal tersedia. Oleh karena itu perlu adanya upaya improvisasi yang disesuaikan dengan kondisi yang ada. Dalam pelatihan ini peserta dibagikan dalam 3 kelompok yang bertugas memecahkan solusi penanganan mamalia laut terdampar dengan berbagai skenario. Continue reading “Pembelajaran upaya Penanganan Mamalia Laut Terdampar”

Inspired by you

Sudah sekian kalinya menulis status berduka dan mengenang ka Tetha yang telah meninggalkan dunia konservasi selama-lamanya. Tapi kali ini saatnya kami meneruskan perjuangannya selama ini dan terus berkarya untuk terus memastikan adanya pengelolaan sumberdaya laut yang seimbang untuk kepentingan manusia dan alam itu sendiri.

image

Creusa ‘Tetha’ Hitipeuw merupakan wanita yang paling konsisten dengan pekerjaannya, passionnya terhadap spesies laut menjadi sumber inspirasi bagi saya. Melihat data trend populasi, distribusi dan jalur migrasi secara kontinyu terus dihasilkan bersama timnya mulai dari Paloh, berau, Bali, kei, koon, jamursba hingga teluk cendrawasih.

Beliau selalu mengajarkan kepada siapapun yang bertanya tentang penyu, duyung hingga hiu paus. Ka Tetha pernah memberikan saran ke saya untuk terus melakukan penelitian dugong di Alor untuk mengetahui pola distribusi dan behaviournya mumpung saya based di Alor dan hingga kini saya tidak berkesempatan menjalankannya. Maaf ka, semoga peneliti muda lainnya akan ada yang memulai dan saya akan terus mendorongnya.

Setiap slide presentasi program bycatch tidak pernah absen dari peta jalur migrasi penyu hijau dari tahun 2006 hinga saat ini, betapa kontribusi yang longlasting :). Informasi nesting penyu belimbing di Indonesia yang selalu direfer oleh peneliti asing dalam menyibak rahasia hidup penyu lintas benua ini pun menjadi salah satu hasil pekerjaan ka tetha dan timnya.

Memilih tinggal di Bali dibandingkan harus bekerja day by day di kota jakarta, mencari asbak dan tidak tahan berlama-lama tanpa rokok dan kopi itu ka tetha banget, email-email kritis dalam menjawab laporan donor dari dia sering sampai ke saya.  dan pernah juga menasehati saya. Tidak ada satupun ahli atau spesialis di WWF dia tidak sepakat jabatan saya jika menjadi tuna spesialis, karena setiap orang pasti berkembang.

image

Menari rokatenda bersama tim Nusa Tenggara plus Bali merupakan keceriaan terakhir kita bersama ya ka. Sampai jumpa dan terima kasih telah menginspirasi banyak tukik di tanah air ini. (YG)

Menapaki daratan pulau-pulau Flores Timur

panorama larantukaFlores Timur merupakan kabupaten paling Timur dari daratan Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Kabupaten ini cukup terkenal secara luas adanya acara jalan santa pada acara paskah yang berlangsung setiap tahunnya di ibukota kabupaten yaitu Larantuka. Dalam waktu dekat ini kegiatan ini akan berlangsung yaitu pada akhir Maret 2013. Bagi saya mengamati¬† arsitektural gereja-gereja disepanjang pesisir Larantuka memiliki kesan sendiri, terutama dengan gereja dipantai kesusteran yang telah dirawat dengan baik sejak jaman misionaris Portugis tiba didaerah ini untuk menyebarkan agama. Continue reading “Menapaki daratan pulau-pulau Flores Timur”