Community based / marine life / My journey

Manta untuk siapa?

wpid-img_1144.jpgSaya mengenal manta sebenarnya sejak sekolah dasar ketika orangtua memberikan saya Tamiya tipe mantaray, kemudian saya juga melihat salah satu tokoh kamen rider dalam serial Kamen rider ryukii. Ketika kuliah membaca mengenai kehidupan manta dilaut membuat saya suka sekali dengan ikan elasmobranchi ini.

Tidak menyangka bahwa Manta merupakan salah satu komoditi yang dicari untuk eksport dan menjadi konsumsi lokal dibeberapa daerah. Insang yang digunakan untuk dunia obat-obat tradisional, daging yang dikeringkan dalam bentuk gelang yang digemari masyarakat pantai hingga gunung, disisi lain orang melihat manta sebagai sesuatu yang indah dan elegan ketika berenang dilautan dan bahkan telah ditetapkan untuk perlindungan penuh diseluruh indonesia dari pemanfaatan ekstraktif.

Saya mendapatkan kesempatan langsung tinggal bertahun-tahun bersama nelayan yang cukup sepuh dalam perburuan manta di perairan sawu. Tanpa bermaksud membela mereka, saya sadari pandangan mereka terhadap manta sama halnya dengan ikan lainnya. Semua yang ada di laut adalah halal dan mereka senang mengkonsumsinya sejak lama dan masyarakat disekitarnya pun juga suka. Kemudian ada pasar yang lebih menguntungkan turut mendorong penangkapan jauh lebih intens dibandingkan kebutuhan pangan lokal.

Jika dilihat dari sudut pandang pariwisata, manta juga komoditi yang jauh lebih menguntungkan secara ekonomi ketika masih hidup yang setiap hari atau musimnya dijadikan objek pariwisata. Namun perlu juga mempertimbangkan kapasitasnya dalam satu wilayah untuk memastikan manta tidak terganggu untuk datang kembali ke lokasi yang sama dikarenakan terlalu banyaknya kapal, penyelam dan bubblesnya dalam satu area.

Kedua kepentingan tersebut berjalan paralel hingga saat ini, kebutuhan ekstraktif pada akhirnya akan berpengaruh terhadap kebutuhan pariwisata. Selain manta merupakan jenis ikan yang bermigrasi cukup jauh, nelayan penombak manta juga memiliki fishing ground yang semakin mengikuti rute migrasi tersebut dan ditambah nelayan dengan alat tangkap lain yang mendapat manta sebagai tangkapan sampingan ( by catch).

Manta dalam konteks ini bukan hanya milik pelaku usaha, megingat ada pemanfaat lain yaitu nelayan penombak manta. Pointnya bukan milik siapa, tetapi bagaimana keuntungan didapatkan oleh berbagai pihak. Nelayan bukan tidak mau menggeser aktivitas mereka untuk tidak mengkonsumsi manta mengingat makanan lain menurut mereka juga jauh lebih enak. Tetapi bagaimana keuntungan dari komoditi lainnya dapat menjawab kebutuhan ekonomi mereka.Kerugian jangka pendek pasti ada, tapi bukan tidak memungkinkan pihak pengguna lain (wisata) turut membantu gap tersebut untuk kepentingan mereka juga

Bagi saya yang tidak sehari-hari lagi bersama mereka. Mungkin beberapa hal yang masih dapat diperbuat oleh saya ataupun teman-teman dalam membantu, menurut saya yaitu :
1. Stop perdagangan insang manta. Lakukan kritik dan saran kepada kargo atau perusahaan yang melakukan shippment produk biota laut yang terancam punah tidak hanya produk manta, tapi juga sepupunya, hiu
2. Mentransfer informasi populasi manta dan segala tantangannya dengan bahasa sederhana ke nelayan penombak manta dan pemerintah setempat maupun nelaysn manapun dilokasi ditemukan manta
3. Menginformasikan kepada pihak yang terkait ketika diving atau snorkling melihat manta, yang mencakup jumlah manta, share manta di sosmed, tingkah laku manta
4. Mengikuti code of conduct ketika bersama manta

Cheers

image

With 2 miss manta

YG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s