Curhatan komodo

Menginjakan kaki pertama di tanah Manggarai Barat merupakan salah satu impian yang baru saja kesampaian selama 5,5 tahun bekerja di NTT. Mendengar besarnya nama dan promosi di tingkat dunia mengenai daerah ini tentunya sangat dinanti. 2 bulan lalu saya mendapatkan kesempatan untuk sedikit observasi program perikanan hiu dan pari manta di perairan TNK dan Manggarai Barat, tentunya saya akan banyak terlibat banyak diskusi dengan user disana yaitu nelayan, pengusaha perikanan, dive operator dan pemerintah setempat.

Berbicara pemanfaatan perairan tersebut untuk tujuan pariwisata dan perikanan tangkap cukup menarik. Pariwisata di kawasan perairan komodo tidak dipungkiri sangat jauh lebih maju dibandingkan daerah lain di NTT. Investor sungguh banyak mulai dari penginapan, restoran, jasa wisata hingga laundry pun ada. Jumlah wisatawan pertahun yang cukup fantastis, kalau tidak salah tahun sebelumnya kurang lebih 60.000 wisatawan. Perputaran uang pastinya sangat besar disektor ini.

image

Gambar 1. Sunset dari salah satu resort di Manggarai Barat
Continue reading “Curhatan komodo”

Advertisements

Lebih Baik bawal dibandingkan Penyu

bycatch in Paloh
bycatch in Paloh

Mari saatnya kita menarik rejeki, ucap pa Asmadi sembari menyalakan mesin kapal yang dimilikinya sejak 5 tahun terakhir. Jaring insang hanyut sepanjang 1.317 m dengan 3 ukuran mess size 5,5’, 6,5’ dan 8’ telah ditebar sejak pukul 17.05 hingga 18:02 dan mulai ditarik 2 jam kemudian. Bagi nelayan asal Paloh Kabupaten Sambas, menangkap bawal putih (silver pomfrey) merupakan target utama mereka melaut. Jenis ini memiliki nilai jual yang paling tinggi di Paloh yaitu berkisar Rp 30.000-115.000 tergantung gradenya. Continue reading “Lebih Baik bawal dibandingkan Penyu”

Pembelajaran upaya Penanganan Mamalia Laut Terdampar

Cukup lama juga baru upload kegiatan ini, maklum menunggu versi officialnya disitus tetangga naik dulu baru mau publish :). Kebetulan yang disengaja, loh!. pada Selasa, 26 November 2013 ruangan pertemuan di Hotel Sanur Beach dipadati oleh praktisi, pemerintah daerah dan Pusat, akademisi hingga dokter hewan yang mengikuti kegiatan Workshop Tingkat Nasional mengenai Mamalia Laut Terdampar di Indonesia. Sangat beruntung diberi kesempatan ini, coba dari dulu ketika saya berdomisili di NTT, tapi tidak ada kata terlambat ya guys.

Kegiatan ini dimulai dengan materi Penangangan cetacean terdampar yang dilanjutkan dengan studi kasus dan simulasi lapangan. Komponen yang ideal dalam penanganan cetacean terdampar adalah terdiri atas prosedur penanganan pada first responden, identifikasi jenis cetacean, identifikasi penyebab kematian adanya kordinator yang mengatur penanganan dan pasca penanganan lanjutannya, serta perlu adanya tindakan necropsy. Namun pada banyak kondisi dilapangan tidak semua hal tersedia. Oleh karena itu perlu adanya upaya improvisasi yang disesuaikan dengan kondisi yang ada. Dalam pelatihan ini peserta dibagikan dalam 3 kelompok yang bertugas memecahkan solusi penanganan mamalia laut terdampar dengan berbagai skenario. Continue reading “Pembelajaran upaya Penanganan Mamalia Laut Terdampar”

Mengerasnya pasir laut Alor

Bersyukur tanpa henti setiap melihat indahnya pantai dengan pasir putih bersih di sepanjang kabupaten Alor. Bahkan bagi orang yang pertama kali menginjakan Alor sudah disambut dengan pemandangan tersebut mulai dari atas pesawat, hingga melewati pantai Mali yang kemudian dilanjutkan pantai Maimol yang sangat bagus terlihat pada kisaran jam 9.00-14.00 karena warna biru yang menyegarkan mata.

imageGambar 1. Pantai Maimol

4 tahun berselang sejak kedatangan pertama kali di Alor tahun 2009,  Pembangunan di Kalabahi cukup berkembang. Dalam hal ini saya yang saya maksudkan adalah bangunan, namun mengarah kurang baik terhadap semakin banyaknya pantai yang terkikis abrasi dan mulai digantikan perannya dengan pembangunan talut ataupun bangunan penahan gelombang. Bagi saya keindahan itu menjadi tidak alami lagi. Continue reading “Mengerasnya pasir laut Alor”

Inspired by you

Sudah sekian kalinya menulis status berduka dan mengenang ka Tetha yang telah meninggalkan dunia konservasi selama-lamanya. Tapi kali ini saatnya kami meneruskan perjuangannya selama ini dan terus berkarya untuk terus memastikan adanya pengelolaan sumberdaya laut yang seimbang untuk kepentingan manusia dan alam itu sendiri.

image

Creusa ‘Tetha’ Hitipeuw merupakan wanita yang paling konsisten dengan pekerjaannya, passionnya terhadap spesies laut menjadi sumber inspirasi bagi saya. Melihat data trend populasi, distribusi dan jalur migrasi secara kontinyu terus dihasilkan bersama timnya mulai dari Paloh, berau, Bali, kei, koon, jamursba hingga teluk cendrawasih.

Beliau selalu mengajarkan kepada siapapun yang bertanya tentang penyu, duyung hingga hiu paus. Ka Tetha pernah memberikan saran ke saya untuk terus melakukan penelitian dugong di Alor untuk mengetahui pola distribusi dan behaviournya mumpung saya based di Alor dan hingga kini saya tidak berkesempatan menjalankannya. Maaf ka, semoga peneliti muda lainnya akan ada yang memulai dan saya akan terus mendorongnya.

Setiap slide presentasi program bycatch tidak pernah absen dari peta jalur migrasi penyu hijau dari tahun 2006 hinga saat ini, betapa kontribusi yang longlasting :). Informasi nesting penyu belimbing di Indonesia yang selalu direfer oleh peneliti asing dalam menyibak rahasia hidup penyu lintas benua ini pun menjadi salah satu hasil pekerjaan ka tetha dan timnya.

Memilih tinggal di Bali dibandingkan harus bekerja day by day di kota jakarta, mencari asbak dan tidak tahan berlama-lama tanpa rokok dan kopi itu ka tetha banget, email-email kritis dalam menjawab laporan donor dari dia sering sampai ke saya.  dan pernah juga menasehati saya. Tidak ada satupun ahli atau spesialis di WWF dia tidak sepakat jabatan saya jika menjadi tuna spesialis, karena setiap orang pasti berkembang.

image

Menari rokatenda bersama tim Nusa Tenggara plus Bali merupakan keceriaan terakhir kita bersama ya ka. Sampai jumpa dan terima kasih telah menginspirasi banyak tukik di tanah air ini. (YG)

Baby scalloped hammerhead

3 minggu lalu dalam rangka survey bycatch gillnet saya menemukan anak hiu yang saat ini sedang gencar-gencarnya dibicarakan oleh berbagai praktisi yaitu Spyrna lewini atau Scalloped hammerhead  tertangkap tidak sengaja di nelayan tradisional disepanjang pantai teluk penyu. Jenis inj merupakan salah satu dari 4 jenis hiu dan 2 pari manta yang telah masuk CITES. Indonesia memiliki waktu hingga september 2014 dalam membuat regulasi dan rencana oengelolaan jenis-jenis ikan bertulang rawan tersebut (aelasmobranchi).

image

Bagi nelayan hal ini sudah biasa karena dalam 1 fishing ground mereka mjnimal 1 ekor pasti tertangkap tidak sengaja tiap bulannya, responden yang lain pun menguatkan bahwa ketika musimnya bisa 4 ekor tertangkap tiap bulannya untuk 1 kapal saja. Penasaran sekali saya menggali informasi ini dikarenakan semua yang tertangkap masih ukuran baby, bahkan beberapa ekor masih terdapat ari-ari nya. Saya yakin didaerah cilacap sampai gombong merupakan tempat induknya melepaskan anaknya ini.

Ini temuan yang menurut saya perlu ditindaklanjuti dengan penelitian lanjutan, saya berharap daerah pelepasa  anakan itu menjadi zona inti yang perlu dijaga demi kelangsungan populasi ini. Diketahui hiu martil ini termasuk jenis pelagic coastal, dibandingkan jenis hiu martil yang lain, Spyrna lewini lebih sering dijumpai didaerah pesisir dan melepaskan anaknya didaerah tersebut. Masa kehamilan 12 bulan dan memiliki mortalitas yang tinggi juga, oleh karena perlu adanya upaya pengelolaan didaerah tersebut.(YG).

Bycatch penyu lekang

image

Penyu lekang mendominasi jenis penyu yang tertangkap tidak sengaja (bycatch) di kapal longline tuna. Data tersebut ditunjukan oleh pencatatan observer yang mengikuti kapal longline di bali.

Teridentifikasi lokasi penangkapan ikan diatas lintang 11○ diselatan bali. Distribusi penyu lekang ini memang cukup jauh dr pantai dan terhitung oceanic. Pengaturan wilayah tangkap di laut lepas diatur dalam Regional Fisheries Management Organization (RFMO) seperti IOTC (Indian Ocean Tuna Commision)  dimana resolusi yang dihasilkan salah satunya adalah terkait bycatch penyu.

Upaya mitigasi sedapat mungkin dapat dilakukan dengan melakukan serangkaian penanganan penyu diatas kapal, setting kedalaman longline >100m dan juga upaya mendorong nelayan kita di Indonesia untuk menggunakan mata pancing C (circle hook) yang efektif menghindari penyu tertangkap di kail. Informasi lanjutnya to be continued ya… 🙂 .YG