Community based / Jalan-jalan

30 menit menuju Sano Ngoang

Inisiatif bangun pagi mencari Sunrise di bukit Amelia yang tertinggi kandas karena sibuk membaca dan membalas email di kamar sejak dini hari, alasan saja karena sudah magar di kamar hotel yang sederhana namun dengan view sunset di kampung tengah, Labuan Bajo. Tekat pagi ini memang sudah bulat dan tidak lonjong lagi apalagi polygon, kudu explore daratan Flores titik
whatsapp-image-2017-01-15-at-06-05-22-1Browshing sebentar sembari sarapan omelet saya masih belum menentukan destinasi yang dituju, sedangkan waktu yang tersisa sekitar 4-5 jam lagi waktu efektif dari penerbangan saya jam 14.20 WITa. Sambil melirik hingga mendelik jam di hp saya langsung mengambil keputusan cepat berangkat ke Lembor entah ada apa disana.

Berangkat jam 8 teng and go meluncur dengan supri 125 merah yang katanya baru diservis total bulan lalu. Ala-ala anak motor yang lagi biasa touring saya meluncur dan meliuk-liuk di jalanan mulus Flores. Pemandangannya mengingatkan rute Maumere – Larantuka dengan tambahan sawah saja dibeberapa tempat. Jalan 30 menit saja udara sudah sejuk macam Ciawi – Megamendung, sambil berhenti-ambil foto pemandangan, saya sempat berhenti diwarung dan ngobrol dengan 2 pasang pengendara motor lokal yang ternyata ojek yang sedang angkut pasangan suami isitri dengan nama bapak usman dan ibu Usman. Mereka berencana mo pulang ke desa didekat danau Sano ngoang. Tanya-tanya katanya cukup 1 jam saja dari lokasi saya ngobrol bisa sampai danau, sembari menunjuk gapura bertuliskan desa Waelolos dan menawar ikan yang dibawa papalele dengan motor dari labuan bajo.

whatsapp-image-2017-01-15-at-06-05-22-2 whatsapp-image-2017-01-15-at-06-05-22-3Gambar 1. Perjalanan menuju Sano Ngoang

Rute melalui desa ini merupakan jalan pintas menuju danau, namun sudah diperingatkan jalannya pelan-pelan saja karena jalannya belum bagus. Kami berangkat sekitar jam 9 dan saya disuruh jalan didepan karena mereka lemayan banyak bawaannya, dengan pede saya melaju, awalnya takjub dengan pemandangan berbukit-bukit disepanjang jalan, setelah itu sibuk mengendalikan stang motor karena jalannya sangat teramat offroad bagi motor supri ini.

whatsapp-image-2017-01-15-at-06-06-51 whatsapp-image-2017-01-15-at-06-07-06Gambar 2. Perjalanan yang menuju Sano Ngoang

whatsapp-image-2017-01-15-at-06-06-51-1Kubangan demi kubangan, susunan batu tajam pun dilewati dengan hati gembira (muka flat), sepi sekali jalannya hanya berpapasan 2 x dengan mobil pick up yang dimodif menjadi angkutan umum. Setiap tiba didesa, saya selalu memasang senyum lebar ala anak KKN dan menekan klakson setiap papasan dengan motor seperti ojek-ojek di Flores Timur atau Alor. Orang pertama dijalan yang saya tanya adalah bapak dengan motor Megapru, dia sampaikan “Dikit lagi kok mas, kurang lebih 30 menit waktu tempuhnya”. Siyappppp. Semangat deket lagi, kemudian saya salah ambil belokan sedikit karena jalan utama sama jalan kampung ga ada bedanya. Sama-sama ancur hehe. Kira-kira 15 menit dari orang pertama, saya tanya ke mas-mas muka seram tapi baik hati. Dia bilang juga 30 menit lagi mas, deket kok tinggal beberap km aja. Berarti nambah 15 menit ni dari waktu awal. Oke meluncur, hingga akhirnya ketemu per 3 lagi tapi kali ini pemandangannya lumayan keren.
whatsapp-image-2017-01-15-at-06-05-22-4
Gambar 2. Persimpangan yang bikin motivasi menurun

Saya sempat patah semangat melihat papan informasi yang menunjukan arah Sano Ngoang 2 jam lagi ^^!, air terjun terdekat 45 menit dan rute lainnya yang tidak ada yang singkat. Nyari verifikator lagi, saya menyetop orang yang lewat dan disampaikan tinggl 30 menit lagi, papan informasi itu hanya ukuran jalan santai mas. Hmmm. Lihat jam dah menunjukan jam 10 aja ni. Kalo dihitung pp saja dah mepet. Kemudian pa Usman menyusul saya dengan motor berjalan dia bilang lurus lagi mas, deket lagi. oke pa, saya semangat lagi, sekitar 15 menit sudah sampai di kecamatan dan tulisannya besar-besar Sano Ngoang. Karena posisi kembali didepan saya sempat berhenti lagi nanya ke anak muda yang katanya mo jalan ke Labuan bajo. Kembali disampaikan ‘Sebentar lagi mas 30 menit lagi sampe” hadeuhh. Dengan baik hati dia juga jelaskan ada rute lain menuju Labuan bajo dengan jalan agak lebih baik namun lebih jauh dari jalan awal yang saya lewati. Namanya sudah tanggung kalau balik, saya pun melaju cepat kearah yang ditunjuk oleh mas nya.

Sekitar 15 menit melaju ala kepepet akhirnya saya melihat air dari celah celah pohon, akhirnya sampai juga di Sano = danau Ngoang. Sepintas ga ada bedanya kaya dipesisir. Foto sana sini tetap aja ga keliatan kaya danau. Mungkin kalau maju lagi dari ketinggian tertentu baru terlihat seperti danau. Mengingat waktu dan rada-rada suram disitu seoarang diri, saya pun starter motor balik ke rute Labuan bajo. Sempat papasan lagi dengan pa Usman yang ternyata nungguin saya dijalan khawatir tersesat, saya pun minta maaf dan pamitan balik.
whatsapp-image-2017-01-15-at-06-05-22-8Gambar 3. Sano Ngoang akhirnya

Sampai dipertigaan dengan papan informasi, entah kenapa saya pun berbelok menuju ke Air terjun Cunca Rami, atas hitung-hitungan cepat 2 jam ke sano Ngoang saja 30 menit masa ke cunca Rami yang tulisannya 45 menit seharusnya jadi 12,5 Menit dung. 2 kali nanya ke warga yang sedang melintas, ternyata sama saja selalu 30 menit lagi. hadeuhhh entah penyemangat atau kudu realistis ni jalannya. Rut eke air terjun ini jauh lebih sepi, jalan kampung yang muat 1 mobil saja, dan motor harus diparkir karena kita harus jalan kaki menyebrang sungai. Hmmm. Nyebrang dikit jalan sekitar 100 m jalan kaki dengan ilalng setinggi pinggang dan seorang diri dengan jam menunjukan 10.45 WITA saya pun memutuskan realistis aja. Balik aja ja deh.
whatsapp-image-2017-01-15-at-06-05-21 whatsapp-image-2017-01-15-at-06-05-22-5Gambar 4. Menuju Cunca Rami

Rute baru yang dilewati memang tergolong masih ada kehidupan orang lalu lalang, jalanan jauh lebih mending, maklum ban dah beradaptasi sama jalan jelek malah kuat, kena jalan mulus malah bocor ditengah hutan begitu. Berhubung ga liat ada rumah barang satu juga, terpaksa supri tetap melaju dengan ban belakang kempes. Sempat nanya orang dijalan katanya deket kok mas 5 km dah ketemu jalan raya lagi, kali ini saya ga tanya dengan satuan waktu karena jalan tidak maksimal juga. Setelah melewati air terjun dipinggir jalan ternyata kali ini jaraknya benar namun saya ga tanya 5 km itu ternyata naik turun bukit. Ya relakan aja deh, mesti ganti ban dalam ini mah. 30 menit kemudian sampe dijalan raya dan mulai mencari tambal ban.
whatsapp-image-2017-01-15-at-06-05-22-7 whatsapp-image-2017-01-15-at-06-05-22-6Gambar 5. Supri bongkar daleman

Setelah proses bongkar muat ban dalam, saya pun melaju ke Labuan bajo, maklum dah jam 12 siang, Cuman 45 menitan aja salip menyalip mobil travel, bis,pick up hingga berpapasan dengan rombongan bule-bule berkaca mata hitam dan berbikinan dengan motor maticnya menanjak, mungkin ke Cunca wulang. Saya pun tiba jam 12.30. Check out dari hotel, balikin motor dan menuju bandara. Next time perlu waktu cuti biar sampe sawah lodok ataupun Desa Waerebo.

*disclamer : cerita ini jangan dibayangkan hasil akhir objeknya bagus atau tidak, namun prosesnya saja yang berkesan

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s