marine life / MPA

4 Hal yang Kurang Tepat Dalam Wisata Penyu

image

Moment melepaskan anakan penyu (tukik) merupakan pengalaman yang sangat menarik bagi masyarakat, hal ini memicu semakin besarnya peminat wisatawan untuk turut proses ini, tidak jarang pula kegiatan pelepasan tukik menjadi acara simbolis pada beberapa kegiatan bernuansa lingkungan.

Hal yang umumnya dijadikan paket-paket wisata penyu yaitu mulai dari wisata melihat penyu bertelur, pelepasan tukik di pantai, berenang bersama penyu dan diving bersama penyu. Semua hal ini bisa dijumpai di Indonesia. Tidak ada yang salah dengan slogan ecotourism penyu, jenis wisata ini sendiri sudah berkembang diberbagai dunia dan so far memang baik-baik saja selama masih dalam kaedah yang seharusnya yaitu tidak menganggu siklus hidup penyu itu sendiri. Beberapa minggu lalu, kebetulan saya mengikuti kegiatan pelepasan penyu yang menurut saya sendiri itu bukan hal yang baik bagi konservasi penyu. Keterbatasan informasi wisata penyu diberbagai daerah, sering disalah terjemahkan oleh berbagai pihak. Oleh karena itu saya coba share sedikit informasi yang saya ketahui.

  1. Berisik dan menggunakan senter pada waktu yang tidak tepat ketika wisata melihat penyu bertelur

30 tahun sudah dilewati sejak pertama kali tukik penyu hijau menetas dan ingin kembali lagi ke pantai penelurannya, tentunya bukan hal yang mudah. 1 dari 1000 penyu yang bertahan kembali ke pantainya ini berniat untuk melanjutkan keturunannya. Penyu umumnya akan naik ke pantai untuk bertelur pada malam hari, kurang lebih selama 2 minggu berada diwilayah pantai. Penyu dapat bertelur 2-8 kali dalam 1 musimnya.

Pemandu wisata yang mengetahui lokasi peneluran penyu sudah sangat paham waktu-waktu penyu akan naik ke pantai, namun 3 prinsip yang perlu diketahui oleh wisatawan. Penyu itu sangat peka terhadap cahaya, suara dan perubahan habitat. Oleh karena itu wisatawan sangat disarankan tidak berisik, ngerumpi ataupun arisan ketika menunggu penyu naik ke pantai, apalagi menyalakan senter atau sumber cahaya lainnya seperti telepon genggam. Hal tersebut boleh dilakukan ketika penyu sudah mengeluarkan telurnya.

  1. Menangkar tukik untuk keperluan wisata pelepasan tukik

Sebaiknya dilakukan sesuai dengan waktu alamiahnya yaitu malam hari, karena malam hari itu minim predator, terutama burung laut. kalau terpaksa harus disetting pada waktu-waktu terang, sangat teramat dianjurkan pada waktu-waktu teduh seperti pagi atau sore hari menjelang matahari tenggelam.

Wisata ini lebih banyak disukai oleh wisatawan, karena berbagai segmen bisa menikmati, tanpa harus begadang dan masuk angina malam-malam. Namun banyak juga yang tidak terkontrol, karena tingginya peminat, pelaku usaha cenderung melakukan penangkaran tukik dengan sengaja dengan waktu tak terhingga, tergantung ada wisatawan yang ambil paketnya atau tidak. Istilahnya mereka stock tukik di bak penampung. Ada beberapa fakta yang perlu teman-teman ketahui terkait hal ini :

  1. Percayalah penetasan alami penyu dipantai tanpa intervensi manusia, jauh lebih tinggi tingkat kelulusanhidupnya dibandingkan dipenangkaran. Penangkaran sebaiknya dilakukan jika terpaksa. Seperti adanya abrasi, dan menagkar telur hasil curian
  2. Tukik memiliki kuning telur (yolk) ketika menetas dan akan habis dalam waktu 3-4 hari
  3. Kemampuan ngesave lokasi pantai peneluran (gps alami ) batas waktunya hanya 2 minggu dr menetas. Kalau lebih dia ga punya arah pulang ketika mo bertelur 30 tahun kmudian
  4. Jika terkena air akan swimming frenzy yang akan mempercepat habisnya yolk

Kuning telur pada tukik sangat penting bagi kehidupannya. Kuning telur ini merupakan cadangan makanannya dilaut hingga tukik mampu mencari makan sendiri. Letak kuning telur berada dibagian perut tukik itu sendiri. Seperti ditunjukan pada foto berikut ini :
image

Kuning telur pada Tukik

  1. Menyentuh dan menunggangi penyu

Sesuai slogan para diver “Take only pictures, and leave only bubbles”. Bahasa germannya. Ojo diraba opo meneh di tunggake. Jadi kalau berenang di bersama penyu, jangan membuat penyu stress seperti memang apalagi menunggaki punggung penyu. Sebaiknya cukup dilihatin saja pada jarak tertentu yang tidak menggangu aktifitas penyu dan tidak melakukan hal-hal secara mendadak atau cepat. Tetap tenang dan lakukan gerakan secara perlahan. Sedangkan bagi penyelam Bubbles yang keluar secara bertubi-tubi juga akan menggangu penyu.

  1. Pengembangan wisata pantai dipantai peneluran penyu

Bisnis wisata ecotourism telah memasuki masa-masa jayanya. Pengembangan wisata semik dekat dengan pantai semakin diminati saat ini. Namun perlu dipahami juga, adanya perubahan fisik pantai oleh bangunan, adanya lampu-lampu dipantai dan berisiknya aktifitas dipastikan akan menggangu habitat alami peneluran penyu.

Jika sudah diketahui lokasi peneluran penyu idealnya pembangunan jalan ataupun bangunan lainnya lebih jauh dari 200 m dari bibir pantai. Hal ini mencegah gangguan bagi penyu yang ingin bertelur. Sudah banyak pelanggaran terhadap hal-hal ini dikota yang mengembangkan wisata baharinya. Semoga dibeberapa tempat yang belum terlambat, memikirkan hal ini. Bukan berarti tidak pro pembangunan tetapi lebih bijak saja dalam membangun, supaya potensi wisata dikota-kota anda dapat berlangsung secara berkelanjutan.
image

 Semoga memberikan gambaran untuk teman-teman untuk menjadi bijak dalam mengambil paket wisata penyu. Cheers (YG).

5 thoughts on “4 Hal yang Kurang Tepat Dalam Wisata Penyu

  1. sekedar sharing mas, beberapa waktu yang lalu saya sempat berkunjung ke wisata “penangkaran” penyu. Kata penangkaran sengaja saya beri kutip karena menurut saya jauh dari kata layak sebagai penangkaran. karena petugas yang ada pun bukan petugas ahli (karena petugas tidak menggunakan id pengenal), dan kondisi penyu yang menyedihkan (banyak tempurung yang pecah)
    saya sempat berpikir bahwa wisata penyu ada salah satu ecotourism yang menarik, tetapi jika kondisi di lapangan seperti itu, saya kira perlu ada analisa ulang terkait kemenarikan wisata penyu

  2. Iya, selain cara mendapatkan biotanya yang harus jelas, pemilik penangkaran harusnya juga serius dlm perawatannya, memang sebaiknya ada sistem monev sperti kebun binatang gtu. Klo ngelanggar ijin cabut aja ya

  3. Mungkin, para pelakunya masih tersihir dengan istilah ‘ecotourism’. Karena seolah-olah it’s gonna be okay dan everything they are will back to the nature. But they “don’t know” enough thing for this

  4. Kayanya perlu diedukasi lagi, klo ga berubah ya berarti niatnya dah ga baik. Share aja di sosmed mention kkp

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s