Community based / Fisheries / My journey

Curhatan komodo

Menginjakan kaki pertama di tanah Manggarai Barat merupakan salah satu impian yang baru saja kesampaian selama 5,5 tahun bekerja di NTT. Mendengar besarnya nama dan promosi di tingkat dunia mengenai daerah ini tentunya sangat dinanti. 2 bulan lalu saya mendapatkan kesempatan untuk sedikit observasi program perikanan hiu dan pari manta di perairan TNK dan Manggarai Barat, tentunya saya akan banyak terlibat banyak diskusi dengan user disana yaitu nelayan, pengusaha perikanan, dive operator dan pemerintah setempat.

Berbicara pemanfaatan perairan tersebut untuk tujuan pariwisata dan perikanan tangkap cukup menarik. Pariwisata di kawasan perairan komodo tidak dipungkiri sangat jauh lebih maju dibandingkan daerah lain di NTT. Investor sungguh banyak mulai dari penginapan, restoran, jasa wisata hingga laundry pun ada. Jumlah wisatawan pertahun yang cukup fantastis, kalau tidak salah tahun sebelumnya kurang lebih 60.000 wisatawan. Perputaran uang pastinya sangat besar disektor ini.

image

Gambar 1. Sunset dari salah satu resort di Manggarai Barat

Disektor perikanan tangkap tidak kalah menariknya, muali dari penangkapan ikan pelagis kecil hingga demersal dapat kita jumpai, terutama kerapu, kakap dan sweet lips dengan ukuran yang besar masih banyak dijumpai di pasar ikan setiap paginya. Serapan lokal terpenuhi dan didistribusikan juga ke daratan flores dan eksportir di Bali. Saya menyempatkan ikut aktivitas nelayan dalam menangkap ikan demersal dengan daerah penangkapan di zona pemanfaatan perikanan yang memang diperuntukan untuk nelayan. Mesin dongfeng 24 PK yang tertanam di kapal 3-4 GT ini mulai mengeluarkan asap hitam diiringi suara berisiknya yang khas melaju mulai jam 17.00, pas sekali untuk mendapatkan moment sunset di laut.

imageGambar 2. Sunset di perairan TNK

Dalam kapal kami ditemani oleh anak nelayan yang bertugas mencari umpan dan menambah hasil tangkapan untuk malam ini. Diawali dengan ikan tembang, kemudian dikaitkan pada pancing ulur sebagai umpan, nelayan mendapatkan ikan lencam yang tidak terlalu besar. Kemudian dipotong lagi sebagai umpan untuk mendapatkan ikan target yang jauh lebih besar. Walhasil ta da..sunu berukuran 60-70 cm didapatkan dan terus mendapatkan kakap dan sweetlips dengan ukuran yang kurang lebih sama besarnya.

image

Gambar 3. Kerapu sunu di kawasan Taman Nasional Komodo

Nelayan puas dengan hasilnya, bagi saya pengelolaan wilayah di taman nasional sangat efisien dalam memastikan ketersedian ikan ini selalu ada sejak TNK ini ditetapkan. Namun dalam  pengelolaan perikanan yang berbasis ekosistem, kita tidak bisa menilai dari aspek produksi saja, Tetapi ada 6 domain besar yang harus diperhatikan yaitu : Teknik penangkapan, sumberdaya ikan, habitat dan ekosistem, sosial, ekonomi dan kelembagaan. Pengelolaan kawasan yang efektif seharusnya mengelaborasikan aspek perikanan ini dalam perencanaan kawasannya.

Terlepas dari keunggulan tersebut, banyak hal yang menggangu bagi saya pribadi berdasarkan hasil interview dari berbagai sisi. Pariwisata dalam skala internasional ini meletakan masyarakat pada posisi yang mana? Sejauh apa masyarakat mendapatkan benefit dari pariwisata, resort berbintang bermunculan, sejengkal tanah orang lokal yang terus berkurang dikarenakan dijual ke pengusaha besar dengan kembali disewakan ke investor asing, tata ruang perkotaan yang mulai tidak pada tempatnya. Belum ada batasan yang pasti sejauh mana pariwisata akan dikontrol karena pelaku usaha lokal mulai kalah bersaing. Menurut saya pribadi banyak hal dan kebijakan yang kurang mengarah dalam penguatan usaha masyarakat lokal. Sory to say, semua nelayan yang saya temui berbicara hal yang sama.

Perjuangan teman-teman pengelolaan kawasan dalam menjaga ancaman destructive fishing perlu diapresiasi. PR selanjutnya adalah memastikan aturan main terhadap alat tangkap didaerah tertentu, karena saya masih melihat adanya bycatch hiu dihari kedua saya disana dengan jumlah yang tidak sedikit.

Pembelajaran yang saya terima dari hal ini yaitu, ketika suatu daerah akan didorong menjadi daerah pariwisata, posisikan masyarakat sebagai pelaku utama yang diprioritaskan, lindungi mereka dengan kebijakan yang proporsional dibandingkan investor yang memang sudah kuat pondasinya,  pastikan capacity building mereka terbangun kalau tidak mereka akan hanya menjadi penonton. Jangan pernah dengan gampang menjual tanah ke orang diluar daerah, karena biasanya mereka akan sewakan kembali ke investor asing. Kalau dalam bahasa nelayan pulau -pulau sudah dipetakan oleh pihak asing.

Usahakan kita menginap dipenginapan orang lokal, menggunakan jasa travel atau jasa wisata dengan kepemilikan masyarakat setempat dan makan diwarung lokal. Hidupkan perekonomian lokal dengan mengurangi kenyamanan kita tidak ada salahnya kan?. YG.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s