Link news / marine life / mitigation / My journey

Pembelajaran upaya Penanganan Mamalia Laut Terdampar

Cukup lama juga baru upload kegiatan ini, maklum menunggu versi officialnya disitus tetangga naik dulu baru mau publishūüôā. Kebetulan yang disengaja, loh!. pada Selasa, 26 November 2013 ruangan pertemuan di Hotel Sanur Beach dipadati oleh praktisi, pemerintah daerah dan Pusat, akademisi hingga dokter hewan yang mengikuti kegiatan Workshop Tingkat Nasional mengenai Mamalia Laut Terdampar di Indonesia. Sangat beruntung diberi kesempatan ini, coba dari dulu ketika saya berdomisili di NTT, tapi tidak ada kata terlambat ya guys.

Kegiatan ini dimulai dengan materi Penangangan cetacean terdampar yang dilanjutkan dengan studi kasus dan simulasi lapangan. Komponen yang ideal dalam penanganan cetacean terdampar adalah terdiri atas prosedur penanganan pada first responden, identifikasi jenis cetacean, identifikasi penyebab kematian adanya kordinator yang mengatur penanganan dan pasca penanganan lanjutannya, serta perlu adanya tindakan necropsy. Namun pada banyak kondisi dilapangan tidak semua hal tersedia. Oleh karena itu perlu adanya upaya improvisasi yang disesuaikan dengan kondisi yang ada. Dalam pelatihan ini peserta dibagikan dalam 3 kelompok yang bertugas memecahkan solusi penanganan mamalia laut terdampar dengan berbagai skenario.

Hal utama yang harus ditekankan ketika ada kejadian mamalia laut terdampar, yaitu :

  1. Setiap cetacean yang terdampar dicheck satu persatu untuk memastikan masih ada yang hidup untuk diprioritaskan dalam penanganannya
  2. Identifikasi kesehatan cetacean tidak selalu dapat terlihat dari morfologi luar
  3. Identifikasi dokter hewan sangat dibutuhkan dalam mengambil keputusan

triase

Gambar 1. Simulasi Penanganan mamalia laut terdampar

Pembelajaran dari contoh kasus diberbagai daerah pada kejadian paus terdampar, antara lain :

1. Pastikan ada orang yang mengkordinir di lokasi terjadinya cetacean terdampar, pastikan orang disekitar lokasi disibukan dengan tugas dalam mendukung upaya penanganan

2. Jika memungkinkan lakukan Triage solution untuk penanganan awal cetacean terdampar

3. Menghubungi pihak yang berwenang dilokasi terdekat

Keesok harinya peserta dan pemateri dengan berbagai latar belakang dan kewarganegaraan menyampaikan pembelajaran di Negara masing-masing mengenai upaya penanganan mamalia laut yang terdampar,wuuwww lucky me, beberapa pointers dari presentasi mereka antara lain :

1. Malaysia

Upaya awal penanganan mamalia terdampar dimulai dengan membentuk jaringan (Network) diberbagai daerah di Malaysia dalam memberikan informasi terkait kejadian-kejadian mamalia terdampar sejak September 2013. Panduan penanganan (SOP) di tingkat nasional sudah tersedia namun terkait neocropsy belum tersedia.

Tantangan yang dihadapi di Malaysia hingga saat ini yaitu  ketersediaan Sumberdaya dan fasilitas rehabilitasi yang memadai, belum banyak ahli patologi mamalia laut, Network terkait penanganan mamalia terdampar baru terbentuk tahun ini sehingga masih perlu banyak pembelajaran, dan database terkait mamalia terdampar belum tersedia dengan baik

2. Kamboja

Upaya penanganan mamalia terdampar sudah pada tahapan necropsy, terutama pada jenis Irrawaddy dolphin yang ditemukan di Sungai Mekong. Tantangan terbesar kasus terdamparnya mamalia laut ini didominasi oleh adanya bycatch pada alat tangkap gillnet, jaring ikan pelagis (Spanish Mackerel Nets) dan Jaring lingkar, faktor lain yang terus mengancam keberadaan mamalia laut di Kamboja adalah degradasi habitat lamun dikarenakan pengoperasian kapal trawl dan pengambilan pasir yang terjadi di Teluk Koh Kong dan Preah Sihanouk.

Kamboja terus mengupayakan perlindungan habitat dengan dibentuknya 4 daerah MPA seluas 32.492 Ha yang beririsan dengan habitat mamalia laut tersebut dalam upaya melakukan pengelolaan wilayah dan menjaga keberlangsungan cetacean tersebut.

3. China

Informasi dikumpulkan di daerah estuarin Pearl River dengan bycatch yang terdiri atas 3 jenis mamalia laut (Sousa chinensis, Neophocaena phocaenoides dan other cetacean) dalam jumlah cukup banyak yaitu 127 ekor terdampar dalam kurun waktu 9 tahun (2004-2013). Upaya necropsy sudah dilakukan namun belum distandarisasi secara nasional dan tantangan terbesar didaerah ini adalah masyarakat masih kurang memiliki kesadaran terkait konservasi mamalia laut, sehingga network yang terbangun pun masih mengalami hambatan.

4. India

Pengumpulan data mamalia terdampar sudah dilakukan sejak sebelum tahun 1900 hingga saat ini, yang berhasil teridentifikasi sebanyak 31 jenis mamalia laut. Jenis yang umum terdampar di Negara ini adalah Sperm whale, Finless Porpoise, humpback dolphin dan baleen whale.

Pembentukan jaringan penanganan mamalia laut terdampar sudah tersedia di India walaupun dalam skala lokal ditiap daerah dan belum ada kolaborasi ditingkat nasional. Hingga pada akhirnya tahun 2008 dibentuk Marine Mammal Conservation Network of India sebagai portal database informasi mamalia laut terdampar di Inda. Informasi didapatkan secara cepat dikarenakan online, namun tantangan yang harus dihadapai adalah identifikasi yang salah, sulitnya memvalidasi sumber data dan kurangnya tenaga peneliti dalam melakukan hal tersebut.

Upaya selanjutnya adalah membentu tim ¬†‚ÄúThe Marine Mammal Stranding Network and¬† Response Team‚ÄĚ yang dibentuk bersama NOAA, CMFRI pada tahun 2009. Kelebihan dengan adanya tim ini yaitu tersedia informasi penyebab mamalia terdampar dan beberapa penelitian lainnya, tersedianya standar format pengumpulan data dan peneliti mendapatkan izin dalam pengumpulan data. Sedangkan kekurangan yang terjadi yaitu ketidaksepakatan terkait pihak yang menyimpan data, pihak yang berhak memiliki data dan perijinan dalam¬† pengumpulan data, dan adanya perbedaan ketertarikan dibagai pihak

5. Bangladesh

Network terkait pemantauan penyebab kematian cetacean terdampar telah terbentuk di Bangladesh dengan fokus wilayah di Sundarbans hingga yang berbatasan dengan perairan pantai. Tim telah dilatih oleh WCS dalam melakukan protokol sampling dan pengamatan cetacean carcass.

Pengumpulan informasi kematian dan tersangkutnya cetacean dikumpulkan melalui WCS Banglades Dolphin hotline, pengecheckan media secara rutin, dan melalui jaringan nelayan dan penyelamat lumba-lumba. Terdapat kordinator yang mengatur tim penyelamat yang telah direkruit dari universitas dan nelayan setempat dan departemen kehutanan selaku pemegang otoritas.

                Upaya necropsy sudah berjalan dengan baik di Bangladesh, beberapa hal yang diidentifikasi melalui necropsy yaitu :

–¬†¬†¬†¬†¬†¬† Penentuan pilihan makanan dengan menganalisa isi perut

–¬†¬†¬†¬†¬†¬† Pengumpula sampel kulit untuk menganalisa geneticnya

–¬†¬†¬†¬†¬†¬† Mengkategorikan penyebab kematian cetacean dengan membuat rangking pada alat tangkap perikanan

6. Sri langka

Lokasi terdamparnya cetacean terjadi diseluruh wilayah Sirlangka, terutama didominasi didaerah pantai barat. Pengumpulan data mamailia laut terdampar masih didapatkan dari berbagai literature, hal ini dikarenakan belum terdapat National Stranding Network secara formal sehingga tidak ada focal  point yang melaporkan  kejadian terdampar, belum ada tim penyelamat yang dilatih dan dilengkapi dengan peralatan yang memadai  dan tidak adanya fasilitasi rehabilitasi untuk penanganan mamalia terdampar.

Necropsy telah dilakukan di Bangladesh secara non formal dengan pengumpulan sampel berupa tulang, baleen dan jaringan. Sampel tersebut disimpan di berbagai tempat yaitu NARA, Musium Nasional di Colombo, Museum kelautan di Galle, dan Universitas

7. Myanmar

Belum banyak informasi yang terkumpul terkait cetacean yang terdampar. Upaya dalam mendorong pembentukan jaringan (network) dan peningkatan kapasitas perlu direncakanan diwilayah pantai Myanmar.

8. Filipina

 Upaya penanganan cetacean terdampar sudah sangat advance dilakukan di Filipina, integrasi diberbagai daerah sudah terbangun dengan baik. Terdapat tim khusus yang menangani cetacean terdampar diberbagai daerah baik dilevel kabupaten hingga nasional, telah tersusunnya protokol untuk penanganan awal cetacean terdampar (first responding protocol) dan terdapat juga protokol untuk necropsy.

9. Indonesia

 Secara garis besar Indonesia sendiri memiliki lebih dari 35 spesies cetacean (paus dan Lumba-lumba) dan 1 spesies sirenian yaitu dugong. Terdiri atas lebih dari 13.000 pulau dengan range habitat dari bibir pantai hingga perairan laut dalam. Aktivitas pemanfaatan laut yang beririsan dengan habitat cetacean juga sangat beragam yang meliputi aktivitas perikanan, wisata, penambangan migas, pelayaran dan lain-lain.

                Mamalia laut yang terdampar sejak tahun 1987-2013 didominasi oleh jenis Irrawaddy dolphin, pesut Mahakam, paus sperma (koteklema) dan short finned pilot whales. Informasi lebih detail dapat dilihat pada grafik dibawah ini :

stranding compositionGambar 2. Grafik Mamalia tedampar di Indonesia (Sumber : presentasi Putu Liza)

Pengumpulan data cetacean terdampar sudah terkumpul dalam portal database yang dapat dilihat di http://www.whalestrandingindonesia.com  dan informasi juga dapat dilihat dalam sosial media seperti facebook.

Tim khusus yang menangani cetacean terdampar masih terus disusun dilevel nasional dengan draft rancangan sebagai berikut :

structure propose

Gambar 3. Draft struktur Jaringan Penanganan Mamalia Laut Nasional (Sumber : Presentasi Putu Liza)

          Salah satu tantangan yang dihadapi adalah kesulitan dalam identifikasi jenis paus pada kondisi tertentu. The Indonesian Biodiversity Research Center (IBRC) yang memfokuskan diri dalam menganalisa genetic dari biota laut turut mengupayakan mengumpulkan sampel cetacean untuk mempelajari jenis cetacean yang terdampar di Indonesia. Upaya kolaborasi antar pihak perlu dilakukan dalam memperbanyak sampel dalam pembuatan barcode jenis-jenis cetacean ataupun biota laut lainnya.

Untuk lengkapnya silakan download presentasi kegiatan ini pada link dibawah ini :

https://www.dropbox.com/s/2kv8wz4v4cpxzx1/1stNational%20Indonesia%20Marmal%20stranding%20workshop.rar?m=

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s