Adaptation / Community based / mitigation / MPA

Mengerasnya pasir laut Alor

Bersyukur tanpa henti setiap melihat indahnya pantai dengan pasir putih bersih di sepanjang kabupaten Alor. Bahkan bagi orang yang pertama kali menginjakan Alor sudah disambut dengan pemandangan tersebut mulai dari atas pesawat, hingga melewati pantai Mali yang kemudian dilanjutkan pantai Maimol yang sangat bagus terlihat pada kisaran jam 9.00-14.00 karena warna biru yang menyegarkan mata.

imageGambar 1. Pantai Maimol

4 tahun berselang sejak kedatangan pertama kali di Alor tahun 2009,  Pembangunan di Kalabahi cukup berkembang. Dalam hal ini saya yang saya maksudkan adalah bangunan, namun mengarah kurang baik terhadap semakin banyaknya pantai yang terkikis abrasi dan mulai digantikan perannya dengan pembangunan talut ataupun bangunan penahan gelombang. Bagi saya keindahan itu menjadi tidak alami lagi.

Kita mulai dari pantai Mali, coba dibandingkan saja kedua gambar tersebut. Tanpa menyebutkan angka prosentasi berkurangnya Fungsi-fungsi fisik terumbu karang, bakau dan lamun sebagai penahan gelombang dan sedimen trap tampaknya sudah dirasakan oleh masyarakat itu sendiri. Menginjak karang, penggunaan alat tangkap yang kurang hati-hati, bakau yang semakin berkurang dan terus diambilnya pasir semakin memperbesar dampak abrasi terus terjadi.

image

resize maliGambar 2. Perubahan pada Pantai Mali pada tahun 2009 (atas) dan tahun 2013 (bawah)

Perubahan pola arus, energi gelombang yang membesar terus mengikis pantai ini hingga mendekati jalan raya. Pada musim Timur gelombang besar dapat menghantarkan air laut hingga jalan. Solusi singkat dengan biaya yang masif pun diambil dengan untuk mencegah kerusakan yang lebih banyak. Berapa lama kontruksi yang ada bertahan? Berapa biaya perawatan yang harus dikeluarkan. Jadi kebayang dung dampak ekonomi kerusakan ekosistem dlm jangka panjang.

imageGambar 3. Pantai Kabir

Hak serupa juga terjadi di labuan, desa Kabir. Pantai terpaksa diberikan benteng yang menjadikannya tidak alami seperti 4 tahun yang lalu

Pantai Maimol dan sebanjar juga mengalami isu serupa. Pengambilan pasir laut. Saya tidak bermaksud menyalahkan, kebutuhan terus menuntut pemanfaatan sumberdaya pastinya. Mempertimbangkan wilayah yang dimanfaatkan minim dampak terhadap ekosistem seharusnya yang dikaji lebih dulu. Sebanjar tentu pilihan yang tidak tepat. Diwilayah itu jelas memiliki arus yang cukup kuat, terumbu karang yang menawan dan visionaris jika mengembangkan pariwisata didaerah tersebut. Sayang sekali jika tidak dikelola dengan baik.

imageGambar 3. Pengambilan pasir Pantai sebanjar

imageGambar 4. Abrasi pantai sebanjar

Menginjakan kaki disini seperti sedang refleksi kaki, karena lebih banyak meninjak pecahan karang yang membentuk pantai dibandingkan menginjak pasirnya. Sepertinya hal-hal tersebut akan terus terulang didaerah lain. Pasir habis, pindah ke pantai lainnya dengan siklus yang sama. Sayang toh kaka dorang..

Integrasi isu terestrial seperti diatas juga perlu dicermati. Investasi untuk menjaga ekosistem laut merupakan hak yang sudah tepat dilakukan oleh Pemerintah kabupaten Alor melalui Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) yang diatur dalam skema zonasi, Penanaman bakau yang dilakukan oleh masyarakat di kabola dan usaha mitigasi lainnya perlu diapresiasi. Subsidi positif yang mengarah pada pelestarian sumberdaya perlu terus didorong. PR selanjutnya adalah menjalankan secara konsisten.

Semoga Pantai Alor terus terjaga sehingga kami pun dengan nyaman bakar ikan dan snorkling dipinggir pantai sepanjang waktu🙂 . (YG)

image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s