My journey

SPAGs

Setiap melihat tanjung-tanjung dilaut, gue selalu teringat perkataan rekan kerja gue yang kerjaannya suka ngintipin orang eh  ikan kawin ^^!. Dia bilang salah satu ciri-ciri lokasi peneluran ikan kerapu tu  kemungkinan besar ditanjung.

Kebetulan dalam waktu dekat ini ini ikut membantu mengerjakan survei mengintip ikan kawin tersebut (risih ga sih dengernya😉 ). survey ini sering dikenal dengan nama survey SPAGs atau bahasa kerennya sih dibilang Spawning Aggregation.

Kenapa sih kita perlu melakukan survey mesum ini!.
Setelah tanya sono sini, ternyata survey ini penting loh, karena merupakan salah satu kunci utama dalam Daerah Pengelolaan Laut (DPL) yang efektif. karena dalam mengelola laut kita perlu juga memikirkan tingkat pemanfaatan nelayan sekitar terhadap sumber daya laut, terutama bagi nelayan yang menangkap ikan-ikan karang seperti kerapu. Untuk memperjelas ya kerapu yang kita bicarakan ini berarti tentang Mr and Ms. kerapu ya, supaya terdengar mengakomodir isu gender🙂.


Seiring bertambahnya penduduk dan meningkatnya armada penangkapan nelayan tentunya akan meningkatkan juga tekanan terhadap kerapu. Permintaan pasar terhadap produk kerapu juga memiliki peranan yang besar terhadap pengambilan kerapu dengan berbagai ukuran. Malah denger-denger yang seukuran piring justru lebih diutamakan dan mahal loe😦 .

Pemanfaatan tersebut sih sah sah aja wong belum ada UU nya toh, ditambah lagi rasanya yang enak hmmm sapa yang ga mau makan ikan yang termasuk primadona ini coba. Namun perlu diketahui tingkat pengambilan kerapu yang tidak selektif berdasarkan ukuran tidak sebanding dengan daya pulih mereka secara alami di alam. Ketika kita mengkonsumsi kerapu dengan ukuran dibawah 30cm (*tergantung jenis), sama saja dengan memutuskan jalur siklus perkembangbiakan kerapu karena tidak memberikan kesempatan si kerapu untuk bertelur. Apalagi yang doyan makan telur kerapu, kelaut aja deh loe –‘.

Kecenderungan pengambilan kerapu saat ini seperti diatas, oleh karena itu kita perlu menjaga stock kerapu di alam tetap stabil tanpa melupakan bapak-bapak nelayan dan ibu-ibu pembakul ikan. Dengan mengetahui lokasi kerapu ini kawin, setidaknya kita dapat mengupayakan mereka untuk mempunyai keturunan. Nah salah satu cara menentukan lokasinya ya dengan survey SPAGS.

Survey sendiri kita perlu menyelam dengan SCUBA untuk dapat mengetahui  melihat  7 ciri-ciri umum kerapu mo kawin, antara lain :
1. Berkumpulnya ikan dalam kelompok yang lebih padat daripada pengamatan normal padawaktu atau lokasi lain.
2. Sering terjadi agresi jantan dengan jantan, saling mengejar dan berkelahi
3. Perubahan warna yang tidak dijumpai pada waktu atau lokasi lain
4. Luka gigitan yang masih segar ( goresan di kerapu jenis Plectropomus dan Epinephelus spp.kalo mo liat browshing ndiri ya hee.hee)
5. Perut betina bunting dan menjadi bengkak
6. Berpasangan
7. Memijah/ menyemprot

Untuk mengetahui ciri-ciri kerapu seperti diatas tidaklah mudah kawan, karena waktu survey yang diamati berdasarkan musim dan fase lunar si kerapu mengunjungi tempat yang sama, Jadi ini bukan survey yang bisa dihitung oleh 1-2 bulan saja tapi tahunan. Kemudian lokasi yang disukai oleh kerapu untuk memijah biasanya arus dari lokasi menuju ke laut lepas, banyaknya tempat persembunyian seperti gua atau celah karang dan lokasi berada pada terumbu karang yang menjorok atau sudut dan celah (WWF, TNC Taman Nasional Bunaken, 2001). Oleh karena itu biasanya di tanjung-tanjung dengan arus yang woww bikin si penyelam serasa maraton di laut.

Nantinya ketika sudah diperkirakan lokasi pemijahan kerapu, tentunya penting untuk direkomendasikan dalam zona inti dalam suatu Daerah Pengelolaan Laut, walaupun nelayan tidak bisa mengambil ikan apapun dizona tersebut, namun kerapu-kerapu junior nantinya juga akan bermigrasi keluar dari zona tersebut, dan nelayan tetap bisa mengambil ikan yang diluar zona inti. Dalam istilah perikanan prinsip ini disebut Spill over.

Namun kembali ke kita sendiri, jika ingin mempertahankan keberadaan si keluarga besar kerapu ini tetap ada di laut. Sebaiknya kita sebagai konsumen yang berbudiman, coba mulai kurangi mengkonsumsinya atau minimal kalo mpe ngiler akut, bijaksanalah ketika membeli atau memesan kerapu yaitu selektif dalam ukuran yang diatas 30cm (YG).

3 thoughts on “SPAGs

  1. manstab….coba digali lg info yg lebih detil kepada beliau-beliau (para pakar ilmu ini atau setidaknya yang pernah melakukan monitoring inip mengintip ini). tentu akan menjadi bacaan yang enak untuk dicermati…
    mungkin bisa ditambahkan kenapa ikan dengan ukuran < 30cm lebih mahal harganya? terus kenapa monitoring ini musti dilakukan pada fase lunar? terus lagi kenapa berada ditempat yang mempunyai arus yang woowww (seperti yg mas Yoga tuliskan)? terus kenapa hanya kerapu yang jadi obyek? kenapa dengan spesies ikan konsumsi yang lain?

    ayo mas bro ditambahkan!!
    nuwun agunging samudro pangaksami hambok bilih wonten tutur ingkang kirang mranani ing penggalih..
    matur sembah nuwun

    sar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s