Negoisasi

Pembiasan Tujuan WOC “Sekali kayuh 2 pulau terlampaui”

nelayan

Saya memasang judul demikian dikarenakan mengaca pada pernyataan petinggi-petinggi kita yang ingin memanfaatkan momen World Ocean Conference (WOC) untuk mengangkat isu kelautan dalam perubahan iklim terlepas dari tujuan utama kegiatan tersebut terinisiasi sebelumnya. Menjadi tuan rumah dalam konferensi internasional sekelas WOC tentunya akan Indonesia menjadi sorotan dunia kembali pasca COP 13, hal tersebut mungkin yang dijadikan momen mengangkat isu aji mumpung tersebut.

Menurut tujuan utama dilaksanakannya kegiatan WOC pada awalnya adalah membahas pengelolaan kelautan, perikanan dan keanekaragaman hayati yang berkelanjutan secara lintas sektoral. Namun seiring mendekati pelaksanaan kegiatan hingga terlaksananya justru isu yang dibahas menjadi melebar dari target utama.

Isu yang mendominasi adalah mengenai perubahan iklim disektor kelautan. Hal ini tidak terlepas atas pernyataan kedua menteri kita yaitu Menteri Kelautan dan perikanan Fredy Numberi dan Menlu Hasan Wirajuda yang menekankan perlunya membawa isu kelautan kedalam isu perubahan iklim yang akan dibahas pada konferensi perubahan iklim selanjutnya pada bulan Desember 2009 di Copenhagen dan WOC merupakan momentum yang menguntungkan untuk menggabungkan antara isu kelautan dan perubahan iklim.

Terlebih lagi dengan adanya 4 target yang harus dikejar oleh pemerintah dalam pertemuan tersebut yang meliputi pembahasan kesepakatan tentang peran kelautan terhadap perubahan iklim global, dampak perubahan iklim global terhadap kelautan, program adaptasi dan mitigasi menghadapi perubahan iklim global, serta menggalang kerjasama internasional untuk mengatasi perubahan iklim. Kesemua hal tersebut akan bermuara kearah kesepakatan berupa “Manado Ocean Declaration”.

Jika melihat inisiasi awal digagasnya kegiatan WOC dan menilik permasalahan disektor kelautan di Indonesia dan negara tetangga yang memiliki sumber daya dan permasalah yang hampir sama. Langkah konservasi dengan mendukung faktor sosial dan ekonomi masyarakat pesisir justru yang harus dijaga dan ditingkatkan. Mengejar target besar terkait perubahan iklim yang lebih mendalam justru akan menyampingkan permasalahan sebenarnya yang dirasakan oleh masyarakat pesisir.

Kesepakatan bersama dalam pengelolaan di sektor kelautan diantara negara-negara CTI dan negara-negara lain yang terkait untuk membahas perdagangan ikan yang legal, pengawasan kelautan terpadu mengenai pencurian ikan, penyediaan fasilitas kesehatan didaerah peisisir hingga pembahasan pengembangan perekonomian masyarakat pesisir dengan kredit mikro ataupun mendukung alternatif pendapat nelayan justru akan lebih baik.

Kita seharusnya meningkatkan kapasitas kita terlebih dahulu dan mencoba merapatkan barisan diantara pemerintah, lsm dan akademik dalam berkordinasi untuk menyelesaikan permasalah kelautan yang tidak kunjung selesai dari dulu. Memulai menyelesaikan permasalahan dengan pembahasan baru mengenai perubahan iklim menurut saya justru akan menjauhkan kita dari target utama.

Saya pribadi sebenarnya setuju sekali dengan adanya gagasan dari negara kita untuk memulai suatu isu besar mengenai kelautan dan perubahan iklim. Negara kita yang selalu digiurkan dan diuntungkan dengan segala potensi alam yang dimiliki walaupun tanpa dijaga tetap akan selalu menjadi kebanggaan tersendiri. Namun jika ingin melompat jauh dengan mencoba memasukkan isu ini kedalam pembahasan COP mendatang saya rasa akan percuma dilihat dari waktu yang tersedia dengan materi yang akan dibahas tidak memungkinkan dimasukkan kedalam COP mendatang jika pun hal tersebut tetap terjadi hasilnya pun tidak akan signifikan.

Disisi lain saya pun masih meragukan kesungguhan pemerintah Indonesia untuk memperjuangkan nilai konservasi kelautan di WOC ini dibandingkan dengan mengejar target insentif yang diterima dikarenakan laut kita yang luas dengan segala potensinya tersebut melalui momen isu perubahan iklim, terlebih lagi dalam waktu dekat Indonesia menjadi tuan rumah kembali dalam pertemuan perubahan iklim oleh IPCC (YG).

Reff :

· http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/05/12/Ilmu_dan_Teknologi/krn.20090512.164946.id.html

· http://www.sinarharapan.co.id/berita/0903/17/sh11.html

<!–[if !mso]> <! st1\:*{behavior:url(#ieooui) } –>

Saya memasang judul demikian dikarenakan mengaca pada pernyataan petinggi-petinggi kita yang ingin memanfaatkan momen World Ocean Conference (WOC) untuk mengangkat isu kelautan dalam perubahan iklim terlepas dari tujuan utama kegiatan tersebut terinisiasi sebelumnya. Menjadi tuan rumah dalam konferensi internasional sekelas WOC tentunya akan Indonesia menjadi sorotan dunia kembali pasca COP 13, hal tersebut mungkin yang dijadikan momen mengangkat isu aji mumpung tersebut.

Merunut tujuan utama dilaksanakannya kegiatan WOC pada awalnya adalah membahas pengelolaan kelautan, perikanan dan keanekaragaman hayati yang berkelanjutan secara lintas sektoral. Namun seiring mendekati pelaksanaan kegiatan hingga terlaksananya justru isu yang dibahas menjadi melebar dari target utama.

Isu yang mendominasi adalah mengenai perubahan iklim disektor kelautan. Hal ini tidak terlepas atas pernyataan kedua menteri kita yaitu Menteri Kelautan dan perikanan Fredy Numberi dan Menlu Hasan Wirajuda yang menekankan perlunya membawa isu kelautan kedalam isu perubahan iklim yang akan dibahas pada konferensi perubahan iklim selanjutnya pada bulan Desember 2009 di Copenhagen dan WOC merupakan momentum yang menguntungkan untuk menggabungkan antara isu kelautan dan perubahan iklim.

Terlebih lagi dengan adanya 4 target yang harus dikejar oleh pemerintah dalam pertemuan tersebut yang meliputi pembahasan kesepakatan tentang peran kelautan terhadap perubahan iklim global, dampak perubahan iklim global terhadap kelautan, program adaptasi dan mitigasi menghadapi perubahan iklim global, serta menggalang kerjasama internasional untuk mengatasi perubahan iklim. Kesemua hal tersebut akan bermuara kearah kesepakatan berupa “Manado Ocean Declaration”.

Jika melihat inisiasi awal digagasnya kegiatan WOC dan menilik permasalahan disektor kelautan di Indonesia dan negara tetangga yang memiliki sumber daya dan permasalah yang hampir sama. Langkah konservasi dengan mendukung faktor sosial dan ekonomi masyarakat pesisir justru yang harus dijaga dan ditingkatkan. Mengejar target besar terkait perubahan iklim yang lebih mendalam justru akan menyampingkan permasalahan sebenarnya yang dirasakan oleh masyarakat pesisir.

Kesepakatan bersama dalam pengelolaan di sektor kelautan diantara negara-negara CTI dan negara-negara lain yang terkait untuk membahas perdagangan ikan yang legal, pengawasan kelautan terpadu mengenai pencurian ikan, penyediaan fasilitas kesehatan didaerah peisisir hingga pembahasan pengembangan perekonomian masyarakat pesisir dengan kredit mikro ataupun mendukung alternatif pendapat nelayan justru akan lebih baik.

Kita seharusnya meningkatkan kapasitas kita terlebih dahulu dan mencoba merapatkan barisan diantara pemerintah, lsm dan akademik dalam berkordinasi untuk menyelesaikan permasalah kelautan yang tidak kunjung selesai dari dulu. Memulai menyelesaikan permasalahan dengan pembahasan baru mengenai perubahan iklim menurut saya justru akan menjauhkan kita dari target utama.

Saya pribadi sebenarnya setuju sekali dengan adanya gagasan dari negara kita untuk memulai suatu isu besar mengenai kelautan dan perubahan iklim. Negara kita yang selalu digiurkan dan diuntungkan dengan segala potensi alam yang dimiliki walaupun tanpa dijaga tetap akan selalu menjadi kebanggaan tersendiri. Namun jika ingin melompat jauh dengan mencoba memasukkan isu ini kedalam pembahasan COP mendatang saya rasa akan percuma dilihat dari waktu yang tersedia dengan materi yang akan dibahas tidak memungkinkan dimasukkan kedalam COP mendatang jika pun hal tersebut tetap terjadi hasilnya pun tidak akan signifikan.

Disisi lain saya pun masih meragukan kesungguhan pemerintah Indonesia untuk memperjuangkan nilai konservasi kelautan di WOC ini dibandingkan dengan mengejar target insentif yang diterima dikarenakan laut kita yang luas dengan segala potensinya tersebut melalui momen isu perubahan iklim, terlebih lagi dalam waktu dekat Indonesia menjadi tuan rumah kembali dalam pertemuan perubahan iklim oleh IPCC (YG).

Reff :

· http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/05/12/Ilmu_dan_Teknologi/krn.20090512.164946.id.html

· http://www.sinarharapan.co.id/berita/0903/17/sh11.html

2 thoughts on “Pembiasan Tujuan WOC “Sekali kayuh 2 pulau terlampaui”

  1. mmm… kira-kira merapatkan barisannya gimana? apa yang harus kita tingkatkan dari kapasitas kita? mengingat US udah berniat memberikan dana penelitian khusus kelautan Indonesia (via WOC) cukup gede (gue lupa tepatnya berapa).

    gue curiganya, Indonesia udah dapet duit banyak untuk penelitian, tapi mereka nggak tau mau meneliti apaan…

  2. merapatkan barisannya ya dengan sharing informasi dan berkordinasi sehingga ga overlap trus antar departemen dan juga lsm.Berusaha menyampaikannya ke masyarakat luas sbg bentuk capacity building melalui berbagai media juga bisa.

    Kapasitas yg kudu dikejar menurut gue sih tentunya pemahaman yg baik tentang perubahan iklim di masyarakat luas dan secara ilmiah bagi pemerintah dan pihak yg terkait melalui wadah sharing informasi misalnya antara akademik dan lsm.
    Based tidak mesti project, karena kalo mind set nya dah kesitu tentunya bakalan ada yg saling bersaing lagi nih..

    Setau gue sih mang dah dapet buat buat shared vision untuk CTI sbelum WOC

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s