Sea Climate

Acidifikasi Laut sebagai konsekuensi emisi karbondiokasida

Saat ini lebih dari 7 miliar ton CO2 dihasilkan manusia setiap tahunnya. Hanya sebagian saja yang berada di atmosfer, 1,5 miliar ton ditangkap oleh biosfer daratan dan sekitar 2 miliar ton masuk kedalam lautan melalui proses difusi. 2 miliar ton tersebut tidak menyebabkan pemanasan global tetapi justru menyebabkan lautan menjadi lebih asam sehingga mengganggu ekosistem di laut.

ph-concentration-input1

Grafik prediksi perkembangan konsentrasi pH dan CO2 dilautan

Acidifikasi laut tidak dipengaruhi langsung oleh adanya pemanasan global melainkan merupakan dampak langsung dari emisi karbondioksida(CO2), karena CO2 yang terlarut dilautan terus berlangsung walaupun atmosfer terus memanas atau tidak. Ascidifikasi saat ini terjadi disebabkan oleh pasokan emisi CO2 yang berada di atmosfer tetapi bukan berdasarkan sifat dari CO2sebagai gas rumah kaca.

Acidifikasi itu sendiriberdampak terhadap proses fisik dan biologis dilautan yang meliputi pengurangan proses pengkapuran pada organisme laut seperti Cocolithophorid, karang, ptreopoda dan plankton foraminifera. Gambar dibawah ini menunjukan terganggunya proses pengkapuran yang terjadi terhadap Cocolithophorid. Gambar a-c diambil pada konsentrasi CO2 sebanyak 300pm(sebelum revolusi industri) sedangakan d-f pada kisaran 780-850 ppm (saat ini).

cocolithophorid-calcification1

Cocolithophorid itu sendiri adalah mikroalga yang merupakan produsen utama di ekosistem laut. Terganggunya pembentukkan struktur Cocolithophorid seperti digambarkan diatas tentunya sangat merugikan sektor perikanan laut dikarenakan terganggunya rantai makanan.

Dampak lain akibat terganggunya proses pengkapuran pada pembentukan karang dan struktur alga adalah semakin rentannya terhadap badai dan angin topan dikarenakan strukturnya yang rapuh. Hal ini juga berdampak pada gastropoda seperti abalone dan kerang-kerangan yang sangat penting dalam industri budidaya.

Proses pemulihan kadar pH (keasaman) dilaut tergantung pada pelarutan sedimen kalsium karbonat di dasar laut yang membutuhkan waktu hingga ribuan tahun hingga dapat seperti semula (Archer et al. 1997), oleh karena itu pendekatan dalam kebijakan pemerintah perlu dilakukan untuk menanggapi fenomena ini.

Sebagai contoh adalah Australia, saat ini mereka telah berupaya mengurangi dampak Ascidifikasi di laut (mitigasi) dengan menanam batu kapur yang berguna sebagai penyangga (buffer) CO2 di lautan. Lebih dari 13 juta ton batu kapur akan dibutuhkan setiap tahunnya untuk menyangga emisi CO2 di Australia, dan sebagai langkah adaptasi mereka juga mengukur dampak yang akan terjadi secara sosial, ekonomi danekologi yang akan berdampak langsung terhadap masyarakat.

Hingga saat ini saya masih belum mengetahui ascidifikasi sudah terjadi di Indonesia atau belum. Oleh karena itu, menurut saya penelitian mengenai Ascidifikasi perlu mendapat perhatian dari pemerintah Indonesia untuk dapat dilakukan secara mendalam khususnya terhadap pengukuran konsentrasi dilautan CO2 dan dampak yang terjadi hingga kini, sehingga dapat berguna sebagai acuan terhadap kebijakan lingkungan kedepannya (YG).

Sumber :

Monterey Bay Aquarium Research Institute. 2005. Annual report : The Carbon Footprint of the coastal ocean.

Antartic Climate and Ecosystems Cooperate Research Center. 2008. Position Analysis : CO2 Emissions and Climate Change : Ocean Impacts and Adaptation Issues.

Archer, D., Kheshgi, H., and Maier-Reimer, E., 1997, Multiple timescales for neutralization of fossil fuel CO2: Geophysical Research Letters, v. 24, p. 405-408.

9 thoughts on “Acidifikasi Laut sebagai konsekuensi emisi karbondiokasida

  1. enggg….kalo mang asidifikasi itu dampak langsung dari emisi CO2, kenapa ga banyak2in ja artikel ni truz disosialisasiin ma pengusaha otomotip…biar mrk sendiri ygt mikir gimana caranya biar tu emisi lebih ramah lingkungan.
    bener ga tuh…???

  2. ada produsen ada konsumen..kalo cuman 1 pihak aja, ga efektif
    pola pemakaian dan aktivitas manusia sebenernya yang paling dominan

    sisanya adalah pemerintah yang mempunyai wewenang dengan segala kebijakannya baru deh ke pengusaha2

  3. eh…iy ding…bener2
    pemerintah harusx lebih sensitif yak…..
    intinya mulai dari diri sendiri deh…biar gampang…
    dari pada susah2 ngomongin yg diatas tapi ga da respon

    jiii…ngomong ma abg beraatt euy…dah kayak bimbingan ma dosen beuuhh…..

  4. kak, salam kenal, g ernawati, kemarin kt perna ketemu d pelangi, yng dari binus..begini kak, kan g mau mengangkat topik ini jadi tema pra tugas akhir g, jd g mo mnta dmana bs dpt referensi…soalnya dikit amat yang g dpt dr inet..thnx b4..^^

  5. berdsarkan masalah yang terjadi di kelautan indonesia sekarang ini yang disebab oleh beberapa faktor yang dapat menggaggu ekosistim laut indonesia dan merugikan para pendapatan para nelayan di indonesia , tetapi tidak ada perlakuan yang bertujuan untuk mangatasi masalah tersebut seperti yang di lakukan oleh australia..

  6. upaya adaptasi bisa diintegrasikan pada program lingkungan lainnya, namun mitigasi memang harus diseriuskan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s