Community based

Nelayan anti potas vs Aparat Laut

Nelayan ikan hias Bangsring sebelum Program Adaptasi Perubahan Iklim masuk merupakan nelayan yang sangat dilematis. Mereka kerja dibawah tekanan dan bayang-bayang aparat kepolisian yang akan menangkap mereka jika diketahui menggunakan potas saat bekerja, padahal sangat jelas pihak aparat tersebut sudah meminta uang tutup mulut atau pungli terhadap mereka secara rutin dan terorganisir dengan baik.

adaptasi-pelatihan-jaring-sea-109-edit1 Nelayan sangat sulit lepas dari pemakaian potassium karena hal tersebut dipicu juga dengan didukungnya oleh pihak aparat asalkan memberikan iuran bulanan terdapat aparat yang menagih tiap bulannya. Hal yang menguntungkan adalah jika nelayan membayar bulanan maka segala administrasi perijinan yang sudah mati maupun penggunaan potas akan tetap diijinkan, seakan-akan pihak yang berwenang tidak mengetahui kalau mereka melakukan pelanggaran dilaut.

Terkadang walaupun nelayan sudah memberikan iuran bulanan yang saat ini sebanyak Rp. 150.000 perbulan/kapal, oknum aparat masih juga meminta uang lainnya baik untuk kebutuhan komunikasi mereka seperti pulsa maupun transportasi tambahan jika mereka melakukan perjalanan dinas keluar kota. Oleh karena itu hal ini sangat meresahkan baik ditingkat nelayan langsung juga terhadap pengepul ikan hias didaerah tersebut.

Ditambahkan pula jika nelayan tersebut menangkap ikan hias didaerah yang jauh dari daerah mereka, baik sebagai nelayan seberangan (andon) atau pun masih satu kabupaten Banyuwangi hanya saja jauh letaknya. Mereka diwajibkan membayar pungli setiap berangkat sebesar Rp. 150.000 juga dan apabila mereka tertangkap dilaut minimal pengepul harus menebus mereka sebesar 2 juta tergantung tawar menawar dengan aparat yang bersangkutan itupun jika sudah membayar uang berangkat sebelumnya, tetapi jika tidak membayar uang berangkat dan bulanan sebelumnya pengepul setidaknya harus menebus nelayannya sebesar 4,5 juta jika tidak mereka akan dipenjara.

Sangat dilematis sekali jika nelayan ikan hias di Bangsring ingin bekerja dengan ramah lingkungan dan memperhatikan biota laut, jika antara yang bekerja baik maupun merusak sudah tidak ada bedanya dimata aparat yang berwenang (YG).

10 thoughts on “Nelayan anti potas vs Aparat Laut

  1. awas ga,,,tar lo diciduk ma aparat mengenai artikel lo…
    jangan ampe tmn gw jadi “orang ilang” gara2 diculik how how how

  2. Tuh kan sebenaernya ya rusak itu mental aparat atau nelayannya sieh,,heran gw..Teruskan perjuanganmu Gw dukung dari belakang (tut wuri handayani hehee)

  3. Waaaah, Ca, banyak2 nulis deh..
    semoga suaramu didengar, tulisanmu dibaca banyak orang.
    turut prihatin sama Nelayan yang ironis nasibnya.
    trus kelanjutannya gimana Ca?

  4. Haii Gaa..sory baru sempet Isi artkelnya :Pemerintah segera menerbitkn surat ketetapan tentang kuota kaapal yang diizinkan beroperasi dengan alat tangkap TRAWL di empat kabupaten /kota itu yaitu di kab. bulungan, nunukan , tana tidung, kota tarakan kaltim..kurang lebihnya seperti itu..lalu dimana kekuatan masyarakat yaa..masyarakatnya sendiri ga setuju.tapi pemerintah berpikiran beda..HUH gmana ini…Semoga ga jadi keluar deh keputusan itu…

  5. maksud gue dia ga diawali dari survey ke masyarakt dulu..tapi cuman ngandalin top down nya aja nah loh ngomng apa sih gue

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s