Musim Tuna di perairan Laut Flores (Tuna Season in Flores Sea)

Akhirnya setelah 6 bulan nelayan melewati musim paceklik tuna yang bekepanjangan dalam tahun ini, terdengar kabar yang menggembirakan dari nelayan tuna di Kelurahan Kabir (kab. Alor) dengan hasil tangkapan mereka sebanyak 11 ekor tuna dengan berat rata-rata 50-60 kg perhari. Hal ini bagi mereka merupakan permulaan dari musim tuna di wilayah perairan laut Flores, cukup beralasan kenapa mereka bilang ini baru “Permulaan”, karena biasanya ketika musim tuna hasil tangkapan nelayan didesa ini bisa mencapai 1 ton/hari. (red :ikan apa beras tuh ^^!.) Continue reading

Paus apa ya ini?

Bulan Agustus 2011 ini merupakan bulan terbanyak penjumpaan saya dengan si Om Paus. Udah 6 ekor Paus ketemu dalam kurun waktu 2 minggu. Namun sayangnya masih belum tau pasti juga jenisnya.  Teman-teman bisa bantu saya identifikasi jenis ini?

Mohon bantuannya ya :)

 

Paus Ramadhan di Teluk Mutiara-Alor Kabupaten Alor-NTT

Tanggal 3 Agustus 2011 yang lalu tepatnya pukul 17:00 WITA terlihat semburan paus sebanyak 4 ekor, 3 berukuran besar dan 1 berukuran kecil. Lokasi pertama terlihat tepat 100-200m didepan kantor WWF-Indonesia Solar Project yaitu di teluk Mutiara -Kabupaten Alor-NTT. Kordinatnya yaitu : LS : -8,22463369, BT 124,53206501. Banyak orang yang melihat kejadian langka ini, bukan hanya staff WWF tapi juga penduduk lokal dan turis yang kebetulan berada di pelabuhan Kalabahi dalam rangka Sail Wakatobi.

Gambar 1. Peta Lokasi ditemukannya 4 paus biru Continue reading

Life Jacket as bantal

Menambah bawaan saja kalo kita mo travel dengan membawa life jacket, udah ga mungkin dimasukan ke tas plus warnanya orange mentereng pula. Rasa sungkan ketika sesuatu hal yang tidak umum kita lakukan, kadang juga menjadi sebab saya enggan membawa life jacket ketika traveling antar pulau di antara Flores Timur, Lembata dan Alor. Padahal hampir semua transportasi disini sangat mengandalkan kapal-kapal kayu sebagai moda transportasi yang paling memungkinkan. Continue reading

Hebatnya orang pulau

Sebuah pujian yang saya berikan untuk orang-orang yang tinggal dikepulauan di Indonesia, bagaimana mereka bertahan dan melangsung hidupnya ditempat dengan teramat minimalis fasilitasnya. Entah bagaimana leluhur atau orang tua mereka pada awalnya memutuskan untuk mendiami suatu pulau. Continue reading

Bubu dasar di perairan Alor

Alat tangkap bubu merupakan alat tangkap yang bersifat pasif yang memanfaatkan kebodohan ikan dengan sistem jebakan, kontruksi bubu mendukung selektifitas target tangkapan dengan disesuaikan dengan besaran lubang bubunya. Sebenarnya ada beberapa jenis bubu yang dikenal di seantaro negara ini, namun berdasarkan cara menggunakannya dapat dibedakan menjadi bubu dasar (ground fish pots), bubu apung (floating  fish pots)  dan bubu hanyut (drifting fish pots).  Cara penggunaannya sesuai namanya toh..ya di nalar sendiri lah ^^!. Continue reading

Pengelolaan Perikanan di Negeriku

Introduksi klasik yang menyebutkan luasnya perairan Indonesia (5,8 juta km2) dengan pulau yang ribuan banyaknya, segala potensi kelautan dikarenakan diapit oleh 2 samudera yang membentang melalui garis katulistiwa, negeri tropis dengan jajaran ring of fire yang memperkaya terestrial dan lautan kita hingga kedaulatan kita dengan memiliki perairan teretrial dan ZEE. Namun seberapa tahu kah kita,  bagaimana negeri kita mengelola itu semua. Sistem yang efektif dalam memantau, mengawasi, merehabilitasi dan meregulasi itu semua sebenarnya sudah diatur loh.

Bentuk pengelolaan yang telah dicetuskan oleh Kementrian kelautan dan Perikanan (KKP) adalah dengan membagi wilayah perairan Indonesia menjadi 11 bagian yang biasa disebut dengan Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP). Lihat gambar dibawah ini, jika ingin mengetahui daerah kalian masuk didaerah pengelolaan yang bernomor apa. Continue reading

True or False in Coastal Community Perception

Banyak pengalaman yang didapat dari bapak-bapak nelayan dan ibu-ibu papalele (pembakul),  ada beberapa hal yang positif dan banyak juga yang negatif, kurang pemahaman dan persepsi yang mendarah daging dari leluhur, perlu diluruskan. Teori ilmiah dan konseptual yang tertuang dalam regulasi dan management perikanan, sebaiknya menyerap kearifan lokal yang benar-benar arif, bukan yang benar-benar naif ^^!. Continue reading

Sekilas tentang Dugong dugon

Berangkat dari rasa perjumpaaan dengan si duyung, akhirnya menebalkan semangat gue untuk baca report-report lembaga lain tentang mamalia ini.. Padahal enakkan menebalkan dompet ya ^^!.

Dugong atau Duyung dengan nama ilmiah Dugong dugon, berasal dari family Dugongidae. Hanya ada 1 spesies dalam famili ini. Dugong masih sodaraan dengan Manatee atau lebih dikenal dengan pesut. Mereka di ordo yang sama yaitu Sirenia. Dibandingkan mamalia lainnya, mereka justru lebih dekat kekerabatannya dengan gajah. Mamailia memiliki panjang tubuh 2,4 – 3,0 meter dengan berat tubuh berkisar 230 – 908 kilogram (Skalalis, 2007).

 Dugong memiliki persebaran yang luas meliputi 37 negara, mulai dari pantai Afrika Timur hingga Vanuatu, namun jika dibandingkan dengan jumlahnya dialam Dugong mengalami masalah serius sehingga mereka digolongkan rentan menuju kepunahan oleh The World Conservation Union (IUCN). Menurut, Perrin, et al (1996) diduga Dugong sudah punah diperairan Kalimantan. Benarkah?

 Gambar 1. Persebaran Dugong diseluruh dunia

Continue reading

Duyung itu ternyata memang cantik

8 Agustus 2010 lalu merupakan kejadian pertama kali gue ketemu dengan seekor duyung sepanjang ±1,5 m di pantai Mali teluk Benlelang, kabupaten Alor, saat itu hanya saya saja yang melihatnya, duyung ini melintasi saya dengan renang yang cepat dan saya pun belum mendokumentasikannya untuk menunjukan ke teman-teman bahwa cerita saya bukan sekedar hoax.

Kalie ini saya bersama beberapa teman (Vidi, Khaifin, Lely, Pontius dan Kendro) bersnorkling ria dengan amunisi yang cukup untuk mendokumentasikan keberadaan duyung tersebut. Saya bersama buddy saya berenang dihamparan lamun diantara pulau Sika dan Mali. Kami mulai berenang pada jam 10.00 WITA, air laut sudah terlihat pasang jadi kami harus berenang sekitar 100m dari pantai putih untuk mencapai lokasi pertama kali saya bertemu dengan duyung tersebut.

Continue reading