Fish Agregation Device (FAD)

22 11 2009

In the early 1900s, fishermen in Indonesia and the Philippines began building floating rafts of bamboo and other materials to attract schools of fish. These man-made structures were the first fish aggregating devices, or FADs.

Pictures. (a). traditional FAD and (b). Modern FAD Read the rest of this entry »





Keterkaitan antara Biodiversitas, Perubahan Iklim dan Mata Pencaharian

2 06 2009

grafik link biodiversitasBiodiversitas dan perubahan iklim merupakan siklus yang saling berhubungan dan tidak bisa dipisahkan secara parsial satu dengan lainnya. Begitu juga keterkaitannya dengan mata pencaharian bagi masyarakat yang memanfaatkannya. Seperti gambar disamping yang menunjukan keterkaitan ketiganya yang saling timbal balik. Read the rest of this entry »





Penyerapan carbon di laut

13 05 2009

Laut merupakan bagian dari sistem hidrologi yang tidak bisa dipungkiri perannya bagi sistem iklim global dengan luasnya yang berkisar 361 juta Km2 atau 72% dari permukaan bumi tentu saja sangat mempengaruhi siklus iklim di dunia. Salah satu yang peranan laut yang tidak kalah penting adalah menjaga stabilitas konsentrasi gas di atmosfer khususnya karbondioksida (CO2).

Melalui serangkaian reaksi kimia, biologis dan fisik meliputi area yang sangat luas siklus pertukaran carbon terus terjadi. Bisa dikatakan bahwa laut merupakan penyerap CO2 alami yang terbesar di bumi karena dari 7 miliar ton CO2 yang dihasilkan oleh manusia pertahunnya, 1.5 miliar ton diserap oleh biosfer terrestrial, sedangkan laut mampu menyerap 2 miliar ton CO2 pertahunnya. Read the rest of this entry »





Pembiasan Tujuan WOC “Sekali kayuh 2 pulau terlampaui”

12 05 2009

nelayan

Saya memasang judul demikian dikarenakan mengaca pada pernyataan petinggi-petinggi kita yang ingin memanfaatkan momen World Ocean Conference (WOC) untuk mengangkat isu kelautan dalam perubahan iklim terlepas dari tujuan utama kegiatan tersebut terinisiasi sebelumnya. Menjadi tuan rumah dalam konferensi internasional sekelas WOC tentunya akan Indonesia menjadi sorotan dunia kembali pasca COP 13, hal tersebut mungkin yang dijadikan momen mengangkat isu aji mumpung tersebut.

Read the rest of this entry »





Geo engineering sebagai bentuk upaya mitigasi perubahan iklim

30 04 2009

Saat ini konsentrasi CO2 di atmosfer sudah mencapai 380 ppm, yang berarti sudah melebihi 80 ppm diatas konsentrasi maksimum pada 740.000 tahun yang lalu (Hoegh, et al, 2007). Aktivitas manusia sendiri ikut menyumbang sekitar 7 Gton CO2 pertahunnya.

Menyikapi semakin meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca yang telah dan akan terus terjadi, beberapa peneliti, pakar teknik dan pakar lingkungan mencoba mengurangi konsentrasi gas rumah kaca atau Green House Gas (GHG) secara langsung yaitu dengan memanipulasi iklim di bumi melalui pendekatan teknik geologi yang sering disebut dengan istilah Geo Engineering.

Beberapa teknik Geo Engineering dibuat berdasarkan carbon sequestration yang dipergunakan untuk mengurangi GHG secara langsung di atmosfer. Metode yang dipergunakan terbagi menjadi 2 yaitu secara langsung dengan menangkap CO2 diudara (carbon dioxide air capture) dan secara tidak langsung seperti dengan penaburan biji besi di laut (ocean iron fertilization). Teknik ini dapat dikategorikan sebagai bentuk dari suatu mitigasi terhadap pemanasan global.

Teknik lain yang dilakukan adalah berdasarkan teknik pengaturan radiasi matahari (solar radiation management), teknik ini tidak mengurangi konsentrasi GHG dan hanya ditujukan untuk mengatasi efek pemanasan akibat CO2 dan gas lainnya, oleh karena itu teknik ini tidak dapat mengatasi permasalahan mengenai pengasaman laut (ocean acidification). Contoh teknik yang dipergunakan adalah dengan menginjeksikan sulfur dioksida ke lapisan stratosfer (stratospheric sulfur aerosols) dan peningkatan daya pantul awan terhadap matahari (cloud reflectivity enhancement).

various-geo-engineering-schemes2

Gambar 1. Teknik yang dipergunakan dalam Geo Engineering Read the rest of this entry »





Strategi adaptasi perubahan iklim di sektor kelautan

6 04 2009

Diperkirakan 60% penduduk dunia berada di perairan Asia Pasifik dan sebagian besar merupakan negara berkembang yang sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim (CSIRO, 2006). Sudah menjadi isu umum bahwa di region ini faktor yang paling mempengaruhi kerentanannya adalah akibat faktor anthropogenic (akibat manusia) itu sendiri dibandingkan akibat dampak perubahan iklim yang terjadi.

Faktor yang disebabkan manusia menyangkut perikanan, pembangunan dan pengambilan sumber daya alam, sedangkan akibat perubahan iklim adalah adanya kenaikan permukaan air laut, kenaikan temperature laut, meningkatnya intensitas cuaca ekstrim, pengasaman laut dan hingga adanya radiasi ultraviolet.

Read the rest of this entry »





Zona Pemeliharaan Bersama “Kaedah bagi lingkungan laut dan nelayan”

13 03 2009

Zona Pemeliharaan Bersama (ZPB) merupakan suatu daerah perlindungan dikawasan laut desa Bangring, kecamatan Wongsorejo yang dibentuk oleh Kelompok Nelayan Ikan Hias Samudera Bakti dan difasilitasi oleh Pelangi Indonesia. Berbeda halnya dengan kawasan lindung Kayu Aking di daerah Muncar yang dikelola langsung oleh Dinas Perikanan dan Kelautan kabupaten Banyuwangi, ZPB semenjak ditetapkan pada 8 Agustus 2008 dan hingga kini sudah dikelola oleh nelayan yang tergabung dalam Badan Pengelola dibawah struktur kepengurusan Samudera Bakti.
ZPB dibuat dengan tujuan sebagai tempat pemijahan ikan karang dengan menjaga kondisi karang hidupnya. Zona ini menggunakan sistem buka tutup (Open-closed Zone), oleh karena itu dalam waktu tertentu saja dapat dibuka untuk dimanfaatkan dalam batas tertentu dalam hal ini selama 6 bulan sekali, yang kemudian akan ditutup kembali dan tidak diperbolehkan adanya aktivitas di zona ini, kecuali untuk pemantauan terumbu karang setiap 3 bulan sekali.

Read the rest of this entry »





Pelajaran dari Implementasi Adaptasi Perubahan Iklim

13 03 2009

campaign21Dampak perubahan iklim terus berjalan, berbagai cara dilakukan untuk meminimalisir faktor penyebab perubahan iklim yang terus terjadi. Terdapat beberapa pendekatan yang selama ini sudah diterapkan diberbagai negara termasuk di Indonesia itu sendiri yaitu seperti mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim.

Mitigasi merupakan suatu bentuk upaya untuk mengurangi dampak perubahan iklim yaitu seperti mengurangi penyebab terjadinya perubahan iklim dengan memenimalisir pengeluaran gas rumah kaca (GRK), sedangkan adaptasi justru lebih mengarah dalam mempersiapkan atau menyesuaikan diri terhadap dampak perubahan iklim yang terus terjadi itu sendiri.
Read the rest of this entry »





Acidifikasi Laut sebagai konsekuensi emisi karbondiokasida

14 02 2009

Saat ini lebih dari 7 miliar ton CO2 dihasilkan manusia setiap tahunnya. Hanya sebagian saja yang berada di atmosfer, 1,5 miliar ton ditangkap oleh biosfer daratan dan sekitar 2 miliar ton masuk kedalam lautan melalui proses difusi. 2 miliar ton tersebut tidak menyebabkan pemanasan global tetapi justru menyebabkan lautan menjadi lebih asam sehingga mengganggu ekosistem di laut.

ph-concentration-input1

Grafik prediksi perkembangan konsentrasi pH dan CO2 dilautan

Read the rest of this entry »





Ancaman terhadap penyu akibat perubahan iklim

31 01 2009

Pemanasan global merupakan permasalahan utama dari perubahan iklim yang berdampak besar pada siklus hidup penyu. Biota laut yang termasuk dalam daftar merah hewan laut yang terancam ini sangat dilindungi. Menurut Davenpot (1997) penyu sangat sensitif terhadap pemanasan global mengingat karakteristik siklus hidupnya dipengaruhi oleh temperatur, seperti penentuan jenis kelamin pada embrio penyu, keberadaan sumber makanan dan terlebih lagi penyu mempunyai pertumbuhan rata-rata yang lambat sehinga sangat rentan terhadap ancaman dari lingkungan sekitarnya. Read the rest of this entry »